Kamis, 10 Desember 2009

Foto-Foto Terlarang dari Hindia Belanda(Jaman Penjajahan)!!

Foto-Foto Terlarang dari Hindia Belanda
Diterbitkan : 7 Desember 2009 – 4:21pm | Oleh Fediya Andina

Selasa, 8 Desember diterbitkan buku yang berisikan foto-foto terlarang yang dibuat di Hindia-Belanda – nama Indonesia di zaman kolonial – antara tahun 1945 hingga akhir 1949.

Foto-foto dilarang pemerintah Batavia, karena hanya mau memberikan gambaran yang positif tentang perang ketika itu. Foto tentara yang terluka tembakan, atau penduduk yang ditangkap dan diancam laras senapan, foto-foto yang boleh dibilang kontroversial, tidak pernah muncul di media Belanda. René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers menggabungkan hampir 200 foto dalam buku mereka ‘Perang Kolonial 1945-1949: Dari Hindia Belanda ke Indonesia. Radio Nederland berbincang dengan Erik Somers, salah satu penulisnya.

René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers memang sudah lama menyelidiki berbagai arsip gambar dan juga fotografi mengenai Perang Dunia II. Selain itu mereka juga menyelidiki arsip-arsip foto di periode dekolonisasi Hindia-Belanda antara 1945 hingga 1949. Ketika itu banyak wartawan yang dipakai oleh pemerintah kolonial untuk membuat foto-foto perang. Para wartawan ini diwajibkan untuk menyerahkan semua foto yang dibuat kepada pemerintah Batavia untuk diseleksi, sebelum dikirim ke media di Belanda.

Disensor

Banyak foto yang tidak terseleksi karena dianggap mengandung unsur-unsur yang mengagetkan sehingga bisa meresahkan sanak keluarga serta penduduk Belanda. Foto serdadu yang terluka misalnya, atau tawanan perang, tidak pernah ditampilkan di media.

Sebenarnya periode 1945, setelah 17 Agustus dan 1949, dikenal dengan periode Bersiap, dan setelah itu dimulai aksi agresi I dan II oleh Belanda, dan berakhir dengan penyerahan kedaulatan Desember 1949. Istilah Belanda ‘Politionele Actie’ memang sengaja tidak digunakan oleh ketiga penulis. Menurut mereka istilah ini digunakan pemerintah Belanda untuk membenarkan aksi di Indonesia yaitu mengembalikan ketenangan dan pemerintahan di Hindia-Belanda, dan digunakan untuk menutup-nutupi apa yang terjadi ketika itu.

Setelah menyelidiki ratusan foto yang ditemukan, ketiganya menyimpulkan, bahwa sejak hari pertama pasukan Belanda datang ke Indonesia, dimulailah periode perang, dalam hal ini perang kolonial.

Memang saat itu banyak foto yang beredar mengenai perang. Tujuan utama buku ini adalah menerangkan kepada rakyat Belanda, bahwa pemberitaan mengenai perang ketika itu, terutama foto, telah terlebih dulu diseleksi, disensor oleh pemerintah, dinas intel dan militer Belanda. Hanya diperlihatkan foto-foto yang sesuai dengan kebijakan pemerintah, kebanyakan foto-foto yang menutup-nutupi dan tidak memperlihatkan situasi yang sebenarnya. Jadi foto-foto yang tidak membuat khawatir sanak keluarga para militer di Belanda. Ketika itu ada 120.000 tentara Belanda dikirim ke Indonesia.

Keadaan sesungguhnya

Foto-foto yang diterbitkan sekarang, justru foto yang dilarang atau ditolak oleh badan sensor, tapi oleh karena satu dan lain hal masih tetap disimpan di berbagai badan arsip. Foto-foto ini menunjukkan gambaran lain tentang perang, kekerasan, teror dan lainnya, atau gambaran perang sesungguhnya.

Rakyat Belanda tidak boleh merasa khawatir akan nasib tentara, sanak keluarga mereka yang ditugaskan ke Hindia-Belanda. Itulah tujuan utama. Setiap bentuk keresahan, apalagi tentangan terhadap perang ini membawa dampak negatif bagi pemerintah dan pimpinan militer Belanda ketika itu. Termasuk foto-foto di mana penduduk Indonesia menyambut gembira pasukan Belanda yang ketika itu dianggap sebagai ‘pembebas’.

Kebijakan yang sama juga digunakan pemerintah Amerika Serikat dalam perang Irak. Dan juga di Afghanistan. Foto-foto yang dipublikasi sebisa mungkin tidak membuat orang bereaksi negatif. Foto-foto yang dibuat fotografer embedded, dan dibuat berdasarkan permintaan pemerintah atau militer.

Foto-foto ini bertolak belakang dengan cerita para serdadu yang kemudian kembali ke Belanda. Setibanya di tanah air mereka merasa tidak dihargai, karena gambaran publik tentang perang itu sangat positif. Tidak ada kejahatan, kekerasan, teror atau aksi berdarah.

Selain itu Belanda juga perlahan-lahan harus menerima bahwa mereka kehilangan wilayah koloni dan dari awalnya perang ini sudah dianggap gagal. Satu hal yang sudah pasti tidak menimbulkan simpati publik.

Reaksi

Banyak reaksi diterima ketiga penulis, terutama dari kalangan veteran KNIL di Belanda. dan juga dari anak-anak mereka, generasi kedua setelah perang. Buku ini, dan terutama foto-foto tersebut menjelaskan mengapa ayah mereka tidak mau berbicara tentang perang. Atau justru bercerita banyak mengenai berbagai kekerasan yang terjadi di saat perang, menjelang akhir hayat mereka. Dengan kata lain buku ini menceritakan sisi negatif dari perang.
Koloniale Oorlog: 1945-1949
René Kok, Erik Somers, Louis Zweers
Penerbit Carrera
ISBN: 978 90 488 0320 0
Terbit mulai 8 Desember 2009

Seorang pemuda yang terluka diberi pertolongan medis oleh anggota brigade marinir Belanda

Operasi Quantico. Seorang serdadu marinir terlihat mengancam sekelompok warga Indonesia yang diintrogas

Operasi Quantico. Seorang pemuda ditarik rambutnya agar keluar dari tempat persembunyia

Presiden Soekarno dan Ibu Fatmawati dielu-elukan oleh warga Indonesia, setelah berpidato di Yogyakarta, November 1949

Warga Belanda di kamp internering di batavia, September 1945

Fotografer dan pembuat film Belanda di Batavia

From Vietnam With Love


delivering hot food


dare devils


circus training


better than walking home


free ride anyone?


public transportation


no helmet? no problem!


Master Yoda


off to school


ox ride


delivering dogs


pig’s ride


ride home


street vendor on a moped


honey, what did you call me last night?


moving day


vegetable ride


carriage for 2


single engine ox ^_^


Pimp my ride :D

Asrama Terkotor Dan Jorok Di dunia!!

Chinese-Student-Hostel-06Kebersihan adalah pangkal kesehatan.Namun semboyan tersebut tidak berlaku bagi para pelajar-pelajar ini.Dengan cueknya mereka dapat hidup ditengah-tengah lingkungan halaman dan kamar asrama yang kotor dan berantakan.Apa bisa mereka dapat belajar dengan tenang dalam keadaan kamar begini???

Chinese-Student-Hostel-02Chinese-Student-Hostel-03Chinese-Student-Hostel-04Chinese-Student-Hostel-08Chinese-Student-Hostel-09Chinese-Student-Hostel-05

sumber :http://www.blogpopuler.com/inilah-asrama-paling-kotor-dan-berantakan-di-dunia/

Foto-Foto yang Mengubah Dunia (Part 2)


January 12, 1960. A second before the Japanese Socialist Party leader Asanuma was murdered by an opponent student.


1962. A soldier shot by a sniper hangs onto a priest in his last moments


1965. A mom and her children try to cross the river in South Vietnam in an attempt to run away from the American bombs


1966. U.S. troops in South Vietnam are dragging a dead Vietkong soldier


1973. A few seconds before Chile ‘ s elected president Salvador Allende is dead during the coup


1975. A woman and a girl falling down after the fire escape collapses.


1980. A kid in Uganda about to die of hunger, and a missionaire.


February 23, 1981. Colonel Molina ve military police seizes the Parliament building in Spain. The photographer did not expect the scene, and hid the films in his shoe.


1982. Palestinian refugees murdered in Beirut , Lebanon


1987. A mother in South Korea apologizes and asks for forgiveness for his son who was arrested after attending a protest. He was protesting the alleged manipulations in the general elections.


1992. A mother in Somalia holds the body of her child who died of hunger.


1994. A man who was tortured by the soldiers since he was suspected to have spoken with the Tutsi rebels


1996. Kids who are shocked by the civil war in Angola


2001. An Afghani refugee kid ‘ s body is being prepared for the funeral in Pakistan


2002. Soldiers and villagers in IRan are digging graves for the victims of the earthquake. A kid holds his father ‘ s pants before he is buried.


2003. An Iraqi prisoner of war tries to calm down his child.